Body
Tangan masih terasa bergetar sedikit setelah perjalanan motor dari lokasi, jadi saya meletakkan helm dulu sebelum membuka pesan. Di teras, anak laki-laki saya mengajak mengikuti gerakan peregangan dari video yang biasa kami pakai. Dia menghitung keras-keras, kadang terlalu cepat, sampai saya tertawa dan kehilangan posisi. Punggung yang tadi kaku mulai terasa lebih enak, terutama setelah tidak lagi menunduk ke layar. Saya tidak melakukan semua gerakan. Sesudahnya kami duduk minum air dan saya baru sadar perut sudah lapar. Bau masakan dari dapur terasa kuat sekali. Badan masih lelah, tetapi bukan lagi lelah yang membuat saya ingin menjawab semua orang dengan singkat.
Emotion
Anak perempuan saya menolak saran saya tentang kegiatan sekolahnya, lalu menjelaskan alasannya dengan rapi. Saya bangga, tetapi juga kesal karena sudah telanjur membayangkan dia memilih yang saya anggap lebih baik. Dua perasaan itu muncul bersamaan dan wajah saya rupanya lebih menunjukkan yang kedua. Dia bertanya kenapa diminta berpendapat kalau akhirnya tetap salah. Saya tidak langsung punya jawaban yang bagus. Setelah makan saya bilang pilihannya tidak salah, saya saja belum terbiasa mendengar alasan yang tidak menuju keputusan saya. Dia hanya mengangguk, lalu melanjutkan tugas. Saya masih ingin menjelaskan lebih banyak, tetapi mungkin malam ini dia sudah cukup mendengar penjelasan ibunya.
Mind
Ada warga yang menunjukkan jalur air kecil di belakang rumahnya, jalur yang tidak terlihat jelas pada gambar lama. Saya semula mengira itu hanya bekas aliran sementara, tetapi ia bisa menjelaskan kapan air lewat dan bagian mana yang lebih dulu penuh. Catatannya bukan angka, melainkan urutan kejadian setiap hujan. Saya perlu mengukurnya, tentu, tetapi tidak ingin kehilangan informasi hanya karena bentuknya bukan seperti laporan kantor. Sekarang saya membandingkan ceritanya dengan elevasi yang sudah kami punya. Ada satu bagian yang belum cocok. Besok harus dilihat lagi dari sisi belakang, bukan hanya dari jalan yang lebih mudah dijangkau.